SURAT KESEPAKATAN PERDAMAIAN TERINTEGRASI DALAM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA

Oleh : Dra.St. Murahmi, M.H.

(Pa Palangkaraya)

I. PENDAHULUAN

Bahwa dalam beracara di Pengadilan Agama tidak mesti berakhir dengan putusan perceraian karena ada beberapa jenis perkara yang dapat diselesaikan dengan cara non litigasi. Salah satunya adalah dengan cara mediasi yang merupakan perluasan dari negosiasi dalam mekanisme ADR = Alternative Dispute Resolution = Alternatif Penyelesaian Sengketa.

Dalam mediasi terdapat beberapa pengertian secara umum yang menurut pendapat Gary Goodpaster menyatakan bahwa mediasi adalah proses negosiasi pemecahan masalah dimana pihak luar yang tidak memihak (importial) dan netral bekerja dengan pihak yang bersengketa untuk membantu mereka memperoleh kesepakatan perjanjian dengan memuaskan. Nah kalau beracara di Pengadilan Agama biasanya akan terlihat daftar Mediator yang terpampang di ruang tunggu sidang/loby para pihak berperkara. Gunanya agar para pihak dapat mengetahui siapa saja yang telah mendapat legimitasi sebagai Mediator di Pengadilan tersebut.

Sebelum pemeriksaan perkara yang menyangkut pokok perkaranya, biasanya akan ada tahapan perdamaian oleh Majelis Hakim apabila kedua belah pihak berperkara hadir di persidangan. Dan oleh Ketua Pengadilan akan ditunjuk Mediator Hakim yang bukan Hakim Pemeriksa Perkara yang memutus atau dapat juga ditunjuk Pegawai Pengadilan oleh Ketua Pengadilan sesuai dengan daftar yang tersedia tersebut.

II.PEMBAHASAN

A. Dasar Hukum

Bahwa sebelum dibahas lebih lanjut, maka ada baiknya dicatatkan beberapa dasar hukum yang dapat dijadikan rujukan untuk mengetahui tentang seluk beluk mediasi di pengadilan seperti :

1.Pasal 130 HIR

2.Pasal 154 RBg

3.Undang-UndangNo.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (ADR)

4.SEMA No.1 Tahun 2002 tentang Pemberdayaan Lembaga Perdamaian dalam Pasal 130 HIR dan Pasal 154 RBg

5.PERMA No.1 Tahun 2008 Jo.PERMA No.1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan

B.Pengertian Mediasi dan Mediator

Memang dalam kepustakaan ada banyak pengertian tentang Mediasi, akantetapi dalam ruang ini hanya dibatasi dengan mengambil pengertian mediasi berdasarkan Pasal 1 Ayat 1 PERMA No.1 Tahun 2016, yakni mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator. Selanjutnya pengertian tentang Mediator menurut Pasal 1 Ayat 2 PERMA No.1 Tahun 2016, adalah Hakim atau pihak lain yang memiliki Sertifikat Mediator sebagai pihak netral yang membantu para pihak dalam proses perundingan guna mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian.

C. Siapa saja yang dapat ditunjuk selaku Mediator

Mengenai subyek hukum yang dapat ditunjuk sebagai mediator adalah seperti criteria yang dikemukakan oleh Pasal 13 PERMA No.1 Tahun 2016 :

1.Mereka yang telah memiliki sertifikat Mediator yang diperoleh setelah mengikuti dan dinyatakan lulus dalam pelatihan sertifikasi Mediator yang diselenggarakan oleh Mahkamah Agung atau lembaga yang telah memperoleh akreditasi dari Mahkamah Agung.

2.Jika terdapat ketiadaan atau keterbatasan jumlah Mediator bersertifikat maka Hakim yang tidak bersertifikat atau Pegawai Pengadilan seperti Panitera, Sekretaris, Panitera Pengganti, Jurusita/Jurusita Pengganti, Calon Hakim dan pegawai lainnya dapat menjalankan fungsi mediator berdasarkan Surat Keputusan Ketua Pengadilan.

3.Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara sertifikasi Mediator dan pemberian akreditasi lembaga sertifikasi Mediator ditetapkan dengan Keputusan Ketua Mahkamah Agung.

D.Tentang Biaya Mediasi

Berdasarkan Pasal8–10PERMA No. 1 Tahun 2016 tentang Biaya Jasa Mediator dikemukakanhal-halsebagai berikut :

1.Jasa Mediator Hakim dan Pegawai Pengadilan tidak dikenakan biaya.

2.Biaya jasa Mediator nonhakim dan bukan Pegawai Pengadilan ditanggung bersama atau berdasarkan kesepakatan para pihak.

3.Biaya pemanggilan para pihak untuk menghadiri proses mediasi dibebankan terlebih dahulu kepada pihak Penggugat melalui panjar biaya perkara dengan menambahkan pada perhitungan biaya pemanggilan para pihak untuk menghadiri sidang.

4.Dalam hal para pihak berhasil mencapai kesepakatan perdamaian, biaya pemanggilan ditanggung bersama atau sesuai kesepakatan para pihak.

5.Dalam hal mediasi tidak dapat dilaksanakan atau tidak berhasil mencapai kesepakatan, biaya pemanggilan para pihak dibebankan kepada pihak yang kalah, kecuali perkara cerai di PA.

6.Biayalain-laindi luar biaya jasa Mediator dibebankan kepada para pihak berdasarkan kesepakatan.

E.Tahapan Pramediasi dan Tahapan Proses Mediasi

Bahwa untuk proses mediasi ditentukan waktunya berdasarkan Pasal3-4apabila terjadi pelanggaran oleh Hakim Pemeriksa Perkara yang tidak memerintahkan para pihak untuk menempuh mediasi sehingga para pihak tidak melakukan mediasi maka apabila diajukan upaya hukum ke Pengadilan Tingkat Banding atau MA akan diperintahkan Pengadilan Tingkat Pertama untuk mediasi dengan putusan Sela Pengadilan Tinggi/MA dengan tenggat waktu paling lama 30 hari terhitung sejak diterimanya pemberitahuan putusan sela PT/PTA/MA.

Selanjutnya, untuk proses mediasi tingkat pertama terdapat istilah tahapan pramediasi yang harus dilaksanakan oleh Hakim Pemeriksa Perkara dengan kehadiran para pihak yang dipanggil berdasarkan panggilan yang sah dan patut dan dapat dipanggil satu kali lagi jika tidak hadir pada sidang pertama. Disini ada kewajiban dari Hakim Pemeriksa Perkara untuk menjelaskan Prosedur Mediasi kepada para pihak yang meliputi beberapa hal sebagai berikut :

1.

Pengertian dan manfaat mediasi

2.

Kewajiban

para pihak untuk menghadiri langsung pertemuan mediasi

 

berikut akibat hukum atas perilaku tidak beritikad baik dalam proses mediasi

3.

Biaya yang

mungkin timbul akibat penggunaan Mediator Nonhakim dan

 

bukan Pegawai Pengadilan.

4.Pilihan menindaklanjuti kesepakatan perdamaian melalui Akta Perdamaian atau pencabutan gugatan.

5.Kewajiban para pihak untuk menandatangani formulir penjelasan mediasi.

Selanjutnya, Hakim Pemeriksa Perkara menyerahkan formulir penjelasan mediasi kepada para pihak yang memuat beberapa pernyataan yakni isinya sebagai berikut :

1.Bahwa para pihak memperoleh penjelasan prosedur mediasi secara lengkap dari Hakim Pemeriksa Perkara;

2.Bahwa para pihak memahami dengan baik prosedur mediasi

3.Bahwa para pihak bersedia menempuh mediasi dengan itikad baik.

Selanjutnya, formulir yang dibuat tersebut di atas segera ditandatangani oleh para pihak dan atau Kuasa Hukum setelah memperoleh penjelasan dari Hakim Pemeriksa Perkara dan merupakan satu kesatuan yang menjadi bagian tidak terpisahkan dengan berkas perkara. Keterangan tentang penjelasan oleh Hakim Pemeriksa Perkara dan penandatanganan formulir penjelasan mediasi wajib dimuat dalam berita acara sidang.

Bahwa para pihak diberikan kebebasan untuk memilih mediator sesuai dengan daftar mediator yang tersedia di Pengadilan sebagaimana criteria yang tersebut pada point C tersebut di atas, kemudian para pihak pada hari itu juga (sidang pertama) atau paling lama 2 hari berikutnya menyampaikan mediator pilihan mereka kepada Hakim Pemeriksa Perkara, akan tetapi jika para pihak tidak dapat bersepakat memilih Mediator dalam jangka waktu tersebut maka Ketua Majelis Hakim Pemeriksa Perkara segera menunjuk Mediator Hakim/Pegawai Pengadilan dengan menerbitkan penetapan yang memuat perintah untuk melakukan Mediasi dan menunjuk Mediator.

Selanjutnya, Hakim Pemeriksa Perkara memberitahukan penetapan kepada Mediator melalui Panitera Pengganti dan Hakim Pemeriksa Perkara wajib menunda proses persidangan untuk memberikan kesempatan kepada para pihak menempuh Mediasi.Dalam hal mediasi dilakukan di gedung Pengadilan, Mediator atas kuasa Hakim Pemeriksa Perkara melalui Panitera melakukan pemanggilan para pihak dengan bantuan Jurusita/Jurusita Pengganti untuk menghadiri pertemuan mediasi.

Bahwa dalam mediasi kali ini ada istilah “beritikad baik” bagi para pihak/salah satu pihak atau yang “tidak beritikad baik” dalam proses mediasi seperti yang dimaksud oleh Pasal 7 Ayat 2 PERMA No. 1 Tahun 2016 yakni :

1.Tidak hadir setelah dipanggil secara patut 2(dua) kaliberturut-turutdalam pertemuan mediasi tanpa alasan sah.

2.Menghadiri pertemuan mediasi pertama, tetapi tidak pernah hadir pada pertemuan berikutnya, meskipun telah dipanggil secara patut 2(dua) kaliberturut-turuttanpa alasan sah.

3.Ketidakhadiranberulang-ulangyang mengganggu jadwal pertemuan mediasi tanpa alasan sah.

4.Menghadiri pertemuan mediasi, tetapi tidak mengajukan dan atau tidak menanggapi Resume perkara pihak lain.Dan atau

5. Tidak menandatangani konsep

kesepakatan

perdamaian

yang

telah

disepakati tanpa alasan sah.

 

 

 

 

Sedangkan akibat hukum bagi pihak Penggugat yang tidak beritikad baik apabila terdapat kriteria sesuai dengan 5 point tersebut di atas, maka menurut Pasal 22 PERMA No. 1 Tahun 2016, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan oleh Hakim Pemeriksa Perkara yakni :

1.Gugatan dinyatakan tidak dapat diterima (NO)

2.Dikenai kewajiban pembayaran Biaya Mediasi

3.Berdasarkan Laporan ketidakberhasilan atau tidak dapat dilaksanakannya mediasi dari Mediator kepada Hakim Pemeriksa Perkara disertai rekomendasi pengenaan dan perhitungan besaran biaya mediasi, maka Hakim Pemeriksa Perkara mengeluarkan putusan yang merupakan putusan akhir yang menyatakan gugatan tidak dapat diterima disertai penghukuman pembayaran biaya mediasi dan biaya perkara.

4.Biaya mediasi sebagai penghukuman kepada Penggugat dapat diambil dari panjar biaya perkara atau pembayaran tersendiri oleh Penggugat dan diserahkan kepada Tergugat melalui Kepaniteraan Pengadilan.

Sedangkan akibat hukum bagi pihak Tergugat yang tidak beritikad baik apabila terdapat kriteria sesuai dengan 5 point tersebut di atas, maka menurut Pasal 23 PERMA No. 1 Tahun 2016, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan oleh Hakim Pemeriksa Perkara yakni :

1.Dikenai kewajiban pembayaran Biaya Mediasi

2.Berdasarkan Laporan ketidakberhasilan atau tidak dapat dilaksanakannya mediasi dari Mediator kepada Hakim Pemeriksa Perkara disertai rekomendasi pengenaan dan perhitungan besaran biaya mediasi, maka Hakim Pemeriksa Perkara sebelu melanjutkan pemeriksaan wajib mengeluarkan putusan sela / penetapan yang menyatakan Tergugat tidak beritikad baik dan menghukum Tergugat untuk membayar biaya mediasi.

3.Biaya mediasi sebagai penghukuman kepada Tergugat merupakan bagian dari biaya perkara yang wajib disebutkan dalam amar putusan akhir.

4.Dalam hal Tergugat dimenangkan dalam putusan, amar putusan menyatakan biaya mediasi dibebankan kepada Tergugat sedangkan biaya perkara tetap dibebankan kepada Penggugat sebagai pihak yang kalah.

5.Dalam perkara perceraian di lingkungan peradilan agama, Tergugat yang dinyatakan tidak beritikad baik dihukum membayar biaya mediasi, sedang biaya perkara dibebankan kepada kepada Penggugat.

6.Pembayaran biaya mediasi oleh Tergugat yang akan diserahkan kepada Penggugat melalui kepaniteraan Pengadilan mengikuti pelaksanaan putusan yang telah BHT.

7.Dalam hal para pihak secarabersama-samadinyatakan tidak beritikad baik oleh Mediator, gugatan dinyatakan tidak dapat diterima (NO) oleh Hakim Pemeriksa Perkara tanpa penghukuman biaya mediasi.

Sekarang tibalah saatnya membahas tentang tahapan proses mediasi, yang menjadi batasan antara tahapan pramediasi dan tahapan proses mediasi ternyata dititikberatkan pada penyerahan resume perkara dan jangka waktu proses mediasi, yakni dengan memperhatikanhal-halsebagai berikut :

1. Dalam waktu paling lama 5(lima) hari terhitung sejak penetapan penunjukan Mediator dari Ketua Majelis Hakim Pemeriksa Perkara, maka para pihak dapat menyerahkan Resume perkara kepada pihak lain dan Mediator.

2.Proses mediasi berlangsung paling lama 30 hari terhitung sejak penetapan perintah melakukan Mediasi.

3. Atas dasar

kesepakatan

para pihak, jangka waktu Mediasi

dapat

diperpanjang

paling lama

30 hari terhitung sejak berakhirnya jangka

waktu

proses mediasi yang pertama sejak keluarnya penetapan tersebut.

 

4.Mediator atas permintaan para pihak mengajukan perpanjangan jangka waktu Mediasi apabila perpanjangan waktu 30 hari yang kedua tidak cukup kepada Hakim Pemeriksa Perkara disertai alasannya.

F.Tahapan Perdamaian Sukarela

Di dalam PERMA No.1 Tahun 2016, terdapat perdamaian secara sukarela yang merupakan tahapan waktu pemeriksaan perkara dengan memperhatikanhal-halsebagai berikut :

1.Pada tiap tahapan pemeriksaan perkara, Hakim Pemeriksa Perkara tetap berupaya mendorong/mengusahakan perdamaian hingga sebelum pengucapan putusan.

2.Para pihak atas dasar kesepakatan dapat mengajukan permohonan kepada Hakim Pemeriksa Perkara untuk melakukan perdamaian pada tahap pemeriksaan perkara.

3.Setelah menerima permohonan para pihak untuk melakukan perdamaian atas dasar kesepakatan tersebut maka Ketua Majelis Hakim Pemeriksa Perkara dengan penetapan segera menunjuk salah seorang Hakim Pemeriksa Perkara untuk menjalankan fungsi Mediator dengan mengutamakan Hakim yang bersertifikat.

4.Hakim Pemeriksa Perkara wajib menunda persidangan paling lama 14 hari terhitung sejak penetapan penunjukan Mediator dari seorang Hakim Pemeriksa Perkara dimaksud.

Disamping itu perdamaian sukarela ini dapat diterapkan pada upaya Hukum Banding, Kasasi atau PK dengan memperhatikan pulahal-halsebagai berikut :

1.Sepanjang perkara belum diputus pada tingkat upaya hukum banding, kasasi atau PK, para pihak atas dasar kesepakatan dapat menempuh upaya perdamaian.

2.Jika dikehendaki, para pihak melalui Ketua Pengadilan mengajukan Kesepakatan Perdamaian secara tertulis kepada Hakim Pemeriksa Perkara tingkat banding, kasasi atau PK untuk diputus dengan Akta Perdamaian sepanjang memenuhi ketentuan yang :

a. Tidak bertentangan dengan hukum, ketertiban umum dan atau Kesusilaan.

b. Merugikan pihak ketiga

c. Tidak dapat dilaksanakan/non eksekutabel

3. Kesepakatan Perdamaian yang dikehendaki oleh para pihak tersebut, wajib memuat ketentuan yang mengesampingkan putusan yang telah ada.

4. Akta Perdamaian ditandatangani oleh Hakim Pemeriksa Perkara tingkat banding, kasasi atau PK dalam waktu paling lama 30 hari terhitung sejak diterimanya Kesepakatan Perdamaian.

5.Apabila berkas perkara banding, kasasi, atau PK belum dikirimkan, berkas perkara dan Kesepakatan Perdamaian dikirimkan bersama – sama ke Pengadilan Tinggi/PTA/MA.

G.Tahapan Perdamaian di Luar Pengadilan

Di dalam PERMA No.1 Tahun 2016, terdapat perdamaian di luar pengadilan dengan mekanisme yang sudah diatur sebagai berikut :

1.Para pihak dengan atau tanpa bantuan Mediator bersertifikat yang berhasil menyelesaikan sengketa di luar Pengadilan dengan Kesepakatan Perdamaian dapat mengajukan Kesepakatan Perdamaian kepada Pengadilan yang berwenang untuk memperoleh Akta Perdamaian dengan cara mengajukan gugatan.

2.Pengajuan gugatan oleh para pihak tersebut harus dilampiri dengan Kesepakatan Perdamaian dan dokumen sebagai alat bukti yang menunjukkan hubungan hukum para pihak dengan obyek sengketa.

3.Hakim Pemeriksa Perkara dihadapan para pihak hanya akan menguatkan Kesepakatan Perdamaian menjadi Akta Perdamaian sesuai dengan ketentuan tersebut pada Pasal 27 Ayat 2 PERMA No.1 Tahun 2016.

4.Akta Perdamaian atas gugatan untuk menguatkan Kesepakatan Perdamaian oleh para pihak tersebut harus diucapkan oleh Hakim Pemeriksa Perkara dalam sidang yang terbuka untuk umum paling lama 14 hari terhitung sejak gugatan didaftarkan.

5.Salinan Akta Perdamaian atas gugatan untuk menguatkan Kesepakatan Perdamaian tersebut wajib disampaikan kepada para pihak pada hari yang sama dengan pengucapan Akta Perdamaian.

Akan tetapi adakalanya Kesepakatan Perdamaian tidak memenuhi ketentuan sebagaimana yang digariskan yakni tidak bertentangan dengan hukum, ketertiban umum dan atau Kesusilaan, tidak merugikan pihak ketiga dan tidak dapat dilaksanakan/non eksekutabel maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1.Dalam hal Kesepakatan Perdamaian diajukan untuk dikuatkan dalam bentuk Akta Perdamaian tidak memenuhi yang dimaksud oleh Pasal 27 Ayat 2 PERMA No,1 Tahun 2016, maka Hakim Pemeriksa Perkara wajib memberikan petunjuk kepada para pihak tentang hal yang harus diperbaiki.

2.Dengan tetap memperhatikan tenggang waktu penyelesaian pengajuan Akta Perdamaian seperti halnya 14 hari sejak gugatan didaftarkan maka para pihak wajib segera memperbaiki dan menyampaikan kembali Kesepakatan Perdamaian yang telah diperbaiki kepada Hakim Pemeriksa Perkara.

H.Urgensinya Mediasi di Pengadilan Agama

Setelah mengetahui pembahasan yang berkaitan dengan beberapa tahapan dari proses mediasi sesuai dengan PERMA No.1 Tahun 2016, ternyata dapat digarisbawahi bahwa ada 4 macam tahapan yakni sebagai berikut :

1.Tahapan Pramediasi 2.Tahapan Proses Mediasi 3.Tahapan Perdamaian Sukarela

4.Tahapan Perdamaian di Luar Pengadilan

Bahwatahapan-tahapantersebut di atas, kalau dihubungkan denganjenis-jenisperkara yang masuk di Pengadilan Agama maka yang paling dominan adalah tahapan Pramediasi karena berkaitan dengan perkara perceraian baik cerai talak maupun cerai gugat dan juga untuk jenis perkara kumulasi Hadlanah dan Nafkah Anak.

Secara tekhnis ketika sidang pertama dilaksanakan dan kedua belah pihak hadir di muka sidang, maka saat itulah mulai nasihat perdamaian dengan memberitahukan kewajiban para pihak untuk menempuh mediasi, yang oleh Ketua Majelis ditunjuk Mediator dari Hakim yang bukan Hakim Pemeriksa Perkara dengan surat Penetapan dan kemudian pada hari itu juga dijadwalkan untuk diadakan pertemuan pertama sedangkan untuk pertemuan berikutnya akan diatur sesuai hasil kesepakatan antara para pihak dengan Mediator Hakim yang ditunjuk.

Selanjutnya, proses mediasi berlangsung sesuai dengan waktu yang diberikan oleh Hakim Pemeriksa Perkara, dan setelah sampai waktunya maka akan ada laporan dari Mediator Hakim yang ditunjuk tersebut, berupa surat pernyataan bahwa telah dilaksanakan mediator dengan criteria berhasil atau tidak berhasil.

Apabila mediasi berhasil maka laporan akan dilampiri dengan Surat Kesepakatan Perdamaian yang disetujui oleh kedua belah pihak berperkara dengan membubuhkan tanda tangan di atas materai yang juga diketahui oleh Hakim Mediatornya. Selanjutnya pada hari sidang berikutnya, kedua belah pihak hadir untuk mendengarkan hasil laporan dari Hakim Mediator yang dirangkai dengan pembacaan putusan berupa Akta Perdamaian yang mana Surat Kesepakatan Perdamaian tersebut terintegrasi di dalam putusan perkara tersebut. Disamping itu pula apabila mediasi berhasil khusus untuk perkara perceraian maka laporannya tidak perlu ada lampiran karena Hakim Pemeriksa Perkara cukup membaca laporan dari Mediator Hakim yang ditunjuk tentang keberhasilan mediasi yang ditempuh oleh para pihak, yang tentu saja berakibat hukum gugatan dicabut oleh Penggugat, kemudian oleh Hakim Pemeriksa Perkara dibacakanlah surat Penetapan pencabutan atas perkara tersebut.

Sedangkan untuk tahapan mediasi yang lain sepertinya belum begitu dikenal karena PERMA No.1 Tahun 2016 ini masih tergolong baru dan perlu kesamaan persepsi untuk memahaminya.

III.KESIMPULAN DANSARAN-SARAN

A.Kesimpulan

Bahwa dari seluruh rangkaian tulisan ini dapatlah kiranya ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1.Bahwa dasar hukum tentang Proses Mediasi di Pengadilan telah direvisi dan sekarang ini yang berlaku adalah PERMA No.1 Tahun 2016 sehingga PERMA No.1 Tahun 2008 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku sejak tanggal 04 Februari 2016 sesuai dengan tanggal diundangkan peraturan yang baru tersebut.

2.Bahwa tahapan Proses Mediasi di Pengadilan terdiri atas 4 macam tahapan yakni sebagai berikut :

2.1.Tahapan Pramediasi 2.2.Tahapan Proses Mediasi 2.3.Tahapan Perdamaian Sukarela

2.4.Tahapan Perdamaian di Luar Pengadilan

3.Bahwa yang sering terjadi di Pengadilan Agama adalah tahapan Pramediasi untuk jenis perkara perceraian baik untuk Cerai Talak maupun Cerai Gugat serta jenis perkara kumulasi Hadlanah dan Nafkah Anak.

4.Bahwa keberhasilan mediasi berupa Akta Perdamaian yang terintegrasi dalam putusan yang memuat Surat Kesepakatan Perdamaian yang disetujui oleh kedua belah pihak berperkara dan atau dapat juga berupa Penetapan yang isinya Penggugat telah mencabut gugatannya.

B.Saran-saran

Adapun saran – saran yang dapat diberikan dan sebagai bahan pertimbangan selanjutnya adalah sebagai berikut :

1.Masih perlu pengkajian lebih lanjut tentang penerapan mediasi pada 4(empat)

Lingkungan peradilan.

2. Masih perlu tim tentang PERMA No.1 Tahun 2016, yang melibatkan unsur dari Hakim maupun Kepaniteraan, terutama untuk Kasir, Jurusita/Jurusita Pengganti dan Panitera/Panitera Pengganti.

3.Masih perlu sosialisasi bagi semua aparatur pengadilan terutama yang berkaitan dengan PERMA No.1 Tahun 2016 dari segi petunjuk tekhnis pelaksanaannya di lapangan.

 

BIODATA PENULIS

Nama

: Dra.St. Murahmi, M.H.

Tmp/tgl.lahir

: Surabaya, 13 Mei 1964

Pekerjaan

: PNS

Alamat

: Jalan M.Husni Thamrin No.16 Palangka Raya

 

Kalimantan Tengah