Riyadh | Badilag.net

Peserta  Diklat Ekonomi Syariah di Riyadh Saudi Arabia angkatan ke III  berjumlah 40 orang hakim, terdiri dari 2 orang hakim tinggi, 3 orang ketua Pengadilan Agama, 5 orang wakil ketua Pengadilan Agama, 5 orang hakim yustisial MA dan 25 orang hakim tingkat pertama.

Dilihat dari jenjang pendidikan, ada 3 hakim bergelar  doktor (S3), 28 Magister (S2) dan  9 strata satu (S1).Bahkan 6 orang diantara peserta tersebut adalah alumni perguruan tinggi luar negeri yang bergengsi di Timur Tengah dan Australia.

Dari segi umur, ada yang sudah kakek-kakek dan ada yang masih muda belia. Peserta paling senior adalah Drs. H. Fajri Hidayat, M.H., Ketua PA Rangkasbitung. Sedangkan anggota termuda adalah H. Arif Budiman, Lc., MA.Hk., hakim PA Putussibau Pontianak yang baru akan menginjak usia 28 tahun pada Oktober nanti.

Di luar jabatan, jenjang pendidikan dan umur, masing-masing peserta  memiliki  karakter dan kepribadian yang berbeda dan unik. Keunikan karakter dan kepribadian pada masing-masing individu  meniscayakan terwujudnya kelebihan dan kekurangannya. Hal tersebut sesuai dengan kaidahlikullli syai’in maaziyah, setiap sesuatu mempunyai kelebihan dari yang lainnya.

Mungkin kita sepakat bahwa karakter merupakan perpaduan potensi alamiah dan internalisasi nilai-nilai secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Nilai-nilai khas yang melekat pada seseorang dan telah menjadi miliknya sehingga membedakan dari individu lainya biasanya disebut kepribadian. Disebut kepribadian, karena sudah mempribadi atau menjadi milik pribadi.

Dari sudut pandang ini kita bisa membayangkan bahwa 40 orang hakim tentu akan melahirkan 40 keunikan. Hanya persoalannya ada keunikan rata-rata dan ada yang di atas rata-rata. Barangkali sekelumit catatan ini dapat menggambarkan karakter dan kepribadian yang sedikit di atas rata-rata.

Kehidupan dalam kelompok kecil  tak ayal akan saling mencadrakan satu dengan yang lainnya sehingga hal-hal kecil akan terlihat, bahkan akan menjadi branding. Pada angkatan ke III ini ada beberapa istilah yang tengah menjadi trending topic.Sebut saja misalnya waadhih, alaisa kadzalik, bitrul, popmei, nikah misyar dan lain-lain. Istilah-istilah tersebut tentu terkait dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi, yang mungkin lucu, menyebalkan, unik dan sebagainya.

Peristiwa unik sekaligus menghadirkan kekaguman bagi saya adalah apa yang dilakukan oleh teman satu kamar saya, yaitu Drs. H. Toha Mansyur, S.H., M.H., Wakil Ketua PA Semarang.

Dilihat dari umur ia tidak muda lagi, namun spiritnya tidak kalah dengan hakim muda lainnya. Semangatnya tergambar dari target  yang ingin diraih  setelah mengikuti diklat ekonomi syariah ini.

”Setelah pulang dari diklat ini kemampuan bahasa Arab kita harus meningkat.Pemahaman kita terhadap ekonomi syariah harus lebih mantap,” ujar ia kepada saya dengan setengah menasehati.

Maka tidak heran jika yang ia bawa dari tanah air adalah buku-buku tentang ekonomi syariah dan kamus bahasa Arab yang tebal-tebal.Berbeda dengan saya yang hanya membawa sebuah buku kecil percakapan bahasa Arab hadiah dari jamaah haji.

Yang paling fenomenal dari semangatnya adalah mencari teman baru di sela-sela kegiatan resmi daurah. Setiap ada kesempatan ia manfaatkan untuk mencari kenalan baru dari para mahasiswa penghuni kampus ini, bahkan sampai polisi yang menjaga pos keamanan.



Begitu  semangatnya, saya istilahkan tidak sekedar mencarai teman, tapi memburu teman baru. Bagaimana tidak,sehari ia targetkan minimal dapat lima teman baru dan semuanya tercatat dengan rapi dalam buka saku yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi.

Dengan rapi ia catat nama lengkap, asal negara, nomor telepon, email, nomor gedung asrama, kamar, tingkat pendidikan, bahkan rekaman hasil percakapan ia dalam bahasa Arab dengan teman barunya juga ada.

Tujuan utama ia mencari teman baru tidak lain adalah untuk menguji dan meningkatkan kemampuan bahasa Arabnya.

”Kalau kita ingin menambah kemampuan bahasa Arab, harus berani bicara dan sekaranglah kesempatan terbaik bagi kita,”ucapnya seperti berusaha meyakinkan saya.

Ia merasa kagum kemampuan bahasa Arab para mahasiswa non Arab, khususnya orang kulit hitam dari Afrika. ” Selama ini banyak diantara kita salah sangka.Menganggap orang kulit hitam itu bodoh dan terbelakang.Ternyata banyak yang hebat, fasih berbahasa Arab dan banyak pula yang hafal al Qur’an 30 Juz,” ungkapnya lagi.

Kemudian saya timpali dengan setengah membantah. ”Ya tentu saja, wong  yang sampean ajak kenalan itu para kaum terpelajar dan calon doktor kok.”

Sampai tulisan ini dibuat, teman baru Pak Toha sudah sekitar 30 orang dari negara dan etnis yang berbeda.Ada Arab Saudi, Yaman, Bahrain, Somalia, Negeria, Kongo, Rusia, Azarbaijan, Jerman, Cina, Korea, dan lainnya.

Suatu hari, ia pernah  meminta pendapat saya.“Apakah kebiasaan yang saya lakukan itu membuat tidak nyaman teman-teman hakim lain? Kok  katanya ada orang hitam mencari saya dan perlu dicurigai?” tanyanya penasaran.

Saya sampaikan padanya bahwa setiap perjuangan tak lepas dari rintangan. Terus maju dan maju. Bravo Hakim Toha Mansur!

(Ahmad Zahri, Wakil Ketua PA Polewali, Makassar)

Sumber : badilag.net